twitter SMAN 4 Lahat

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Berdasarkan perkembangan sejarah,diketahui bahwa manusia tidak pernah berhenti dari kesibukannya.Mereka beraktivitas dari pagi sampai malam, baik anak-anak, orang-orang dewasa maupun orang-orang tua.Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Di dalam kesibukan-kesibukan tersebut, terjalinlah suatu hubungan timbal balik di dalam usaha dan memenuhi kebutuhan manusia, atau dapat juga dikatakan manusia adalah makhluk sosaial yaitu makhluk yang selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya terutama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.

1.2 FAKTA


“ Sekolah Dilarang Terima Siswa Tawuran “ ??? !

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMP/SMA, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus.
Perkelahian pelajar memang bukan merupakan masalah baru di Indonesia, tilik saja data Bimmas Polri Metrojaya Jakarta misalnya mencatat jumlah kasus perkelahian pelajar sebanyak 157 pada tahun 1992, meningkat menjadi 183 pada tahun 1994, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 tercatat sebanyak 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Tambunan, 2001). Terlihat dari tahun ke-tahun jumlah kasus perkelahian pelajar semakin meningkat, belakangan justeru perkelahian pelajar tidak hanya terjadi pada para pelajar putra tetapi juga banyak terjadi dikalangan pelajar putri. di Nusa Tenggara Timur, Banyaknya tawuran antar pelajar di kota-kota besar di Indonesia merupakan fenomena menarik untuk dibahas. Di sini penulis akan memberi beberapa contoh dari berita-berita yang ada. Di Palembang pada tanggal 23 September 2006 terjadi tawuran antar pelajar yang melibatkan setidaknya lebih dari tiga sekolah, di antaranya adalah SMK PGRI 2, SMK Gajag Mada Kertapati dan SMKN 4 (harian pagi Sumatra ekspres Palembang). Di Subang pada tanggal 26 Januari 2006 terjadi tawuran antara pelajar SMK YPK Purwakarta dan SMK Sukamandi (harian pikiran rakyat). Di Makasar pada tanggal 19 September 2006 terjadi tawuran antara pelajar SMA 5 dan SMA 3 (karebosi.com).Tidak hanya pelajar tingkat sekolah menengah saja yang terlibat tawuran, di Makasar pada tanggal 12 Juli 2006 mahasiswa Universitas Negeri Makasar terlibat tawuran dengan sesama rekannya disebabkan pro dan kontra atas kenaikan biaya kuliah (tempointeraktif.com). Sedangkan di Semarang sendiri pada tanggal 27 November 2005 terjadi tawuran antara pelajar SMK 5, SMK 4 dan SMK Cinde (liputan6.com). Masih banyak kejadian tawuran antar pelajar yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu di sini. Usai upacara peringatan HUT Kemerdekaan ke-65 RI, ada sejumlah siswa yang tawuran di pelataran Benteng Kuto Besak Palembang. Sebagian bahkan ada yang membawa senjata tajam. Sejak siang, ratusan siswa memang mendatangi lokasi tersebut dengan berbagai tujuan. Ada yang iseng atau diberi tugas ke museum oleh gurunya.Namun tiba-tiba di antara ada yang mereka berteriak dan berhamburan. Bahkan ada yang saling kejar dengan menggunakan besi dan senjata tajam.Kondisi ini membuat para pelajar panik. Terlebih di lokasi tidak ada aparat keamanan motif menelanjangi salah satu temannya secara beramai-ramai di dalam kelas. Perkelahian para pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Sukabumi, Kamis (21/1) kembali terulang. Bahkan kali ini, areal perkelahian para pelajar semakin meluas hingga ke wilayah Kabupaten Sukabumi. Untuk mengantisipasi perkelahian pelajar tidak meluas, petugas Kepolisian Resort Kota (Polresta) Sukabumi terpaksa melakukan penyisiran.Dari hasil penyisiran, 48 pelajar dari 4 SMK diamankan petugas. Mereka diduga terlibat perkelahian massa dalam dua hari terakhir ini. Sejumlah senjata tajam dan benda keras lainnya berhasil diamankan. Barang hasil sitaan dari tangan para pelajar tersebut. Mereka digiring ke halaman Markas Kepolisian Resort (Mapolresta) Sukabumi untuk dimintai keterangan.

"Perkelahian para pelajar kembali terulang. Kami melihat areal perkelahian meluas hinga di beberapa lintasan jalanan di Kab. Sukabumi. Walaupun jumlah pelajar yang terlibat perkelahian hari ini berkurang," kata anggota Satuan Tugas (Satgas) Antitawuran Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, Wanto Kemal Fasa kepada "PR", Kamis (21/1).

Perkelahian para pelajar dalam seminggu terakhir ini sangat menyulitkan para petugas dan Dinas Pendidikan Kota Sukabumi. Bahkan, upaya antisipasi hingga tindakan tegas dilakukan petugas. Namun,tindakan tegas petugas sama sekali tidak menyurutkan para pelajar untuk menghentikan aksi tawuran.Padahal sehari sebelumnya, Mapolresta dan Satgas Antitawuran mengamankan puluhan pelajar dan memberikan hukuman dengan mencukur habis rambut pelajar yang tertangkap sedang tawuran."Namun, upaya itu tidak menyurutkan mereka untuk menghentikan tawuran. Tindakan tegas sama sekali tidak menimbulkan efek jera kepada pelajar lainnya," kata Wanto. Sementara pelajar yang terlibat tawuran berasal dari empat SMK. Masing-masing pelajar dari SMK "A", "P", "TM" dan SMK "KC". Mereka kembali digunduli paksa Satgas Dinas Pendidikan di Mapolresta Sukabumi.
"Kami tidak akan bosan-bosan mengguduli mereka. Langkah tersebut merupakan upaya agar mereka tidak mengulangi perbuatan serupa," katanya. Operasi pintar Untuk mengantisipasi tidak meluasnya daerah tawuran pelajar, Markas Kepolisian Resort Kota (Mapolresta) Sukabumi telah mengintensifkan operasi pintar. Selain melakukan razia di sejumlah ruas jalan yang kerap dipakai lokasi tawuran, para petugas tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas. Bahkan, para pelajar yang kerap melakukan aksi serupa akan diproses hukum.(

SLEMAN: Puluhan pelajar terlibat aksi tawuran di depan SMK Jamblangan, Seyegan, Senin (11/10) siang, pukul 14.00 WIB. Beruntung, aksi tawur tersebut segera dibubarkan aparat Polsek Seyegan. Informasi yang dihimpun, aksi tawuran itu melibatkan pelajar dari SMK Jamblangan yang berseteru dengan pelajar SMA Negeri Tempel.Benih-benih pertikaian antara kedua sekolah sudah berlangsung lama. Kejadian pada Senin siang ini dipicu oleh aksi saling ejek antara kelompok pelajar SMK Jamblangan dengan pelajar SMAN Tempel melalui sarana pesansingkat (SMS Aksi saling ejek lewat SMS tersebut membuat suasana menjadi panas. Sekitar pukul 14.00 WIB, ketika para pelajar SMK Jamblangan selesai mengikuti pelajaran di sekolah dan berniat pulang ke rumah, tiba-tiba muncul sekelompok pelajar yang teridentifikasi dari SMAN Tempel, datang mengendarai belasan sepeda motor dan menggeber knalpot sehingga menimbulkankegaduhan.Terpancing emosinya, puluhan pelajar SMK Jamblangan langsung mengadang. Akibatnya perkelahian tak dapat dihindarkan. Aksi aksi saling lempar langsung terjadi. Mendapat informasi tersebut, petugas Polsek Seyegan langsung terjun ke lokasi untuk meredakan ketegangan. Tercatat sedikitnya 15 motor diamankan oleh petugas di lokasi kejadian.
Beberapa siswa yang ditemui di depan sekolah mengaku risau dan takut pulang ke rumah karena bisa dicegat di tengah jalan. Mereka juga takut karena ada informasi melalui SMS bahwa sekelompok pelajar dari salah satu sekolah kejuruan di Kota Jogja sedang menuju ke SMKJamblangan.Kapolsek Seyegan, AKP Supardi yang dihubungi Senin sore membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, perkelahian antarpelajar itu tidak menimbulkan korban luka. Para pelajar yang terlibat sempat diamankan di Mapolsek, sebelum diizinkan pulang.(Harian Jogja/MG Rizal Fernandez)

Fakta-fakta ini sungguh sangat menggelikan dan mencoreng lembaga pendidikan di Indonesia dan harus mendapat perhatian yang serius dari berbagai kalangan.Kalau dulu Paul W Tappan (dalam Atmasasmita, 1985) dan Hurlock (1993) menegaskan bahwa yang membedakan kenakalan antara remaja putra dan putri adalah lebih pada jenis kenakalannya, dimana perilaku-perilaku seperti gelandangan, pergi dari rumah, melanggar lalu lintas lebih sering dilakukan oleh remaja putra. Tampaknya gagasan tersebut semakin tidak relevan dengan kondisi sekarang, hal ini dapat diartikan bahwa perilaku-perilaku remaja kita saat ini telah terlalu jauh mengabaikan nilai-nilai sosiokultural bangsa. Lalu siapa yang harus disalahkan?, apakah masalah kelas ekonomi yang harus disalah?, seperti hipotesis-hipotesis yang selama ini beredar bahwa perkelahian pelajar hanya terjadi pada para siswa dari kelas ekonomi bawah sebagaimana pendapat Albert K. Cohen yang mengatakan bahwa perilaku kenakalan dikalangan remaja adalah disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap remaja-remaja dari kelas ekonomi menengah keatas, sebagai usaha untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sosialnya (Suyatno, 2006). Tentu saja tidak hanya faktor ekonomi yang harus disalahkan, karena faktor ekonomi hanya mempunyai sumbangsih yang tidak begitu signifikan terhadap munculnya perilaku perkelahian pelajar, justeru para orang tua dan para gurulah yang harus disalahkan. Kenapa harus orang tua yang disalahkan? dan kenapa harus guru yang disalahkan? mungkin beberapa pertanyaan ini perlu kita renungkan. Sudahkan sekolah mempunyai tenaga Bimbingan dan Konseling?, Kalau sudah, sudahkan tenaga Bimbingan Konseling (BK) menjalankan prosedur penanganan siswa?, Sudahkah tenaga BK melakukan deteksi permasalahan siswa?, Sudahkah tenaga BK melakukan deteksi sosiometri terhadap siswa?, Sudahkah tenaga BK memberikan layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan karir, layanan bimbingan belajar, layanan bimbingan sosial, layanan bimbingan pribadi dan layanan konseling?, dan sudahkah sekolah memiliki kualitas pengajaran yang baik?. Kalau beberapa pertanyaan tersebut jawabannya adalah Ya tidak akan kita jumpai lagi kasus-kasus perkelahian pelajar atau sejenisnya. (http://mobilterbaru.com/info/contoh-makalah-perkelahian-antara-pelajar)

Maraknya tingkah laku agresif akhir-akhir ini yang dilakukan kelompok remaja kota merupakan sebuah kajian yang menarik untuk dibahas. Perkelahian antarpelajar yang pada umumnya masih remaja sangat merugikan dan perlu upaya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini atau setidaknya mengurangi. Perkembangan teknologi yang terpusat pada kota-kota besar mempunyai korelasi yang erat dengan meningkatnya perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja kota. Pergaulan pelajar pada zaman sekarang ini sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Semua media massa, baik elektronik maupun cetak dengan leluasa menampilkan hal-hal yang dapat mengakibatkan kerusakan akhlak generasi muda pada masa sekarang ini. Oleh karena itu, penulis tertarik membahas “Perkelahian Pelajar di tinjau dari Landasan Psikologis Pendidikan”. Dalam makalah ini, penulis ingin menampilkan sekelumit permasalahan pelajar dan dunia pergaulannya. Walaupun sederhana, penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi para pembaca. Masalah perkelahian pelajar memang telah menjadi sebuah fenomena sosio-kultural yang terkait dengan aspek kehidupan lainnya. Problem ini tidak lagi bisa diselesaikan hanya oleh para guru, para pelajar itu sendiri, maupun polisi. Harus ada solusi yang holistik dan langsung menyentuh kepada akar persoalan yang paling mendasar.

1.3 Rumusan Masalah


Dari latar belakang permasalahan di atas, dapat di rumusankan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah permasalahan perkelahian pelajar ditinjau dari landasan psikologi pendidikan pada masa sekarang ini ?

2. Bagaimanakah solusi mengatasi masalah perkelahian pelajar ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERKELAHIAN PELAJAR



2.1.1 Dampak perkelahian pelajar


Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

2.1.2 Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar

Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan
masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.


2.1.3 Hal-Hal Yang Mempengaruhi Timbulnya Perkelahian Pelajar


Perkelahian pelajar dapat ditimbulkan oleh bebera hal, diantaranya :

1. Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan dan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainnya identitas peran. Kenalakan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan control diri untuk bertingkahlaku sesuai dengan pengetahuannya.

3. Keluarga
Percerian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan anntar anggota keluarga bisa memicu perilaku negataif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluargapun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab kenakalan remaja.

4. Teman sebaya yang kurang baik
Pengaruh teman sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk, apabila dibungkus dengan segunpal daun, maka daun itupan akan berbau busuk, sedangkan bila sebatang kayu cendana di bungkus dengan selembar kertas, kertas itupun akan wangi baunya. Perumpamaan ini merupakan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak dikemudian hari akan banyak masalah bagi dirinya sendiri dan orang tuanya.

5. Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai dengan anak adalah merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak, maka pilihkan lah sekolah yang bermutu. Namun, masih sering terjadi dalam masyarakat, orang tua memaksanakan kehendaknya, agar di masa depan anaknya memilih fropesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orang tua. Pemaksaan ini justru kan berakhir dengan kekecewaan, sebab, meski memang sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orang tua tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudain kecewa, frustasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka mudah pergi bersama kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

6. Penggunaan waktu luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak pada sisi remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila bentuk kegiatan itu positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negative maka lingkungan akan tergangu. Seringkali perbuatan negative ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya, perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orang tuanya maupun teman seperjuangannya.
Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu malam hari, mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebaginya.

7. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik

2.2 Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

Hal ini dapat ditinjau dari psikologi perkembangan dan kesiapan seorang anak. Menurut Crijns (Pidarta, 2007:196), tahap perkembangan manusia secara umum sebagai berikut:

1. Umur 0 – 2 tahun disebut masa bayi. Sebagian besar memanfaatkan hidupnya untuk tidur, memandang, mendengarkan, kemudian belajar merangkak dan berbicara.

2. Umur 2 – 4 tahun disebut masa kanak-kanak. Anak mulai bisa melihat struktur, permainan-permainan bersifat fantasi, dan suka mengkhayal.

3. Umur 5 – 8 tahun disebut masa dongeng. Kesadaran akan lingkungan sesungguhnya mulai muncul namun masih dipengaruhi subjektivitas sendiri sehingga mereka suka pada dongeng-dongeng.

4. Umur 9 – 13 tahun disebut masa Robinson Crusoe (nama seorang petualang). Mulai berkembang pemikiran kritis, nafsu persaingan, minat-minat, dan bakat. Suka bertanya dan menyelidiki, suka menggoda, mengejek, dan sebagainya.

5. Umur 13 tahun disebut masa pubertas pendahuluan. Mereka mulai belajar bersolek, suka menyendiri, melamun, dan segan olahraga. Mereka gelisah, cepat tersinggung, suka marah-marah, keras kepala, acuh tak acuh, dan senang bermusuhan.

6. Umur 14 – 18 tahun disebut masa puber. Mereka mulai sadar akan pribadinya sebagai seorang yang bertanggung jawab dan takut dicampuri oleh orang dewasa, ia hanya berhubungan dengan teman-teman seperasaan. Ini merupakan periode pembentukan cita.

7. Umur 19 – 21 tahun disebut masa adolesen. Mereka mulai menemui keseimbangan, sudah mempunyai rencana hidup tertentu dengan nilai-nilai yang sudah dipastikannya. Namun, kadang-kadang timbul sikap radikal, ingin menolak, mencela, merombak hal-hal yang tidak disetujuinya dalam politik, agama, sosial, kesenian, dan sebagainya.

8. Umur 21 tahun ke atas disebut masa dewasa. Remaja mulai insaf bahwa pekerjaan manusia tidak mudah dan selalu ada cacatnya. Mereka mulai berhati-hati.

Periode perkembangan di atas merupakan periode secara umum artinya ada saja anak atau remaja yang menyimpang dari perkembangan umum itu.

Havinghurst menyusun fase-fase perkembangan sebagai berikut: (Mulyani,, dalam Pidarta, 2007:199),

1.Tugas perkembangan masa kanak-kanak:

Belajar berkata, makan makanan padat, berjalan, mengendalikan gerakan badan, mempelajari peran jenis kelaminnya sendiri, stabilitas fisiologi, membentuk konsep sederhana tentang sosial dan fisik, belajar menghubungkan diri secara emosional dengan orang-orang lain, serta belajar membedakan yang benar dengan yang salah.

2.Tugas perkembangan masa anak:

Belajar keterampilan fisik untuk keperluan bermain, membentuk sikap diri sendiri, belajar bergaul secara rukun, mempelajari peran jenis kelamin sendiri, belajar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, mengembangkan konsep-konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan, membentuk kata hati, moral, dan nilai, membuat kebebasan diri, dan mengembangkan sikap terhadap kelompok serta lembaga-lembaga sosial.

3.Tugas perkembangan masa remaja:

Membuat hubungan-hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya dan kedua jenis kelamin, memperoleh peran sosial yang cocok dengan jenis kelaminnya, menggunakan badan secara efektif, mendapatkan kebebasan diri dan ketergantungan pada orang lain, memilih dan menyiapkan jabatan, mendapatkan kebebasan ekonomi, mengadakan persiapan perkawinan dan kehidupan berkeluarga, mengembangkan keterampilan dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik, mengembangkan perilaku bertanggung jawab, dan memperoleh seperangkat nilai serta etika sebagai pedoman berperilaku.

4.Tugas perkembangan masa dewasa awal:

Memilih pasangan hidup, belajar hidup rukun bersuami istri, memulai kehidupan punya anak, belajar membimbing dan merawat anak, mengendalikan rumah tangga, melaksanakan suatu jabatan atau pekerjaan, belajar bertanggung jawab sebagai warga negara, dan berupaya mendapatkan kelompok sosial yang tepat serta menarik.

5.Tugas perkembangan masa setengah baya:

Bertanggung jawab sosial dan menjadi warga negara yang baik, membangun dan mempertahankan standar ekonomi, membina anak remaja agar menjadi orang dewasa dan bertanggung jawab serta bahagia, mengisi waktu senggang dengan kegiatan-kegiatan tertentu, membina hubungan suami istri sebagai pribadi, menerima serta menyesuaikan diri dengan perubahan fisik diri sendiri, dan menyesuaikan diri dengan pertambahan umur.

6.Tugas perkembangan orang tua:

Menyesuaikan diri dengan semakin menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan, menyesuaikan diri terhadap menurunnya pendapatan atau karena pensiun, menyesuaikan diri sebagai duda atau janda, menjalin hubungan dengan klub lanjut usia, memenuhi kewajiban sosial sebagai warga negara yang baik, dan membangun kehidupan fisik yang memuaskan.

Tugas-tugas perkembangan di atas disiapkan untuk pendidikan seumur hidup. Hal ini dapat dilihat adanya perkembangan untuk masa setengah baya atau orang dewasa dan untuk masa tua.

Sedangkan Jean Piaget , membagi empat tingkat perkembangan khusus yaitu kognisi (Mulyani 1988, Nana Syaodih, 1988, dan Callahan, 1983, dalam Pidarta, 2007:201), sebagai berikut:

1. Periode sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun. Kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks. Reaksi intelektual hampir seluruhnya karena rangsangan langsung dari alat-alat indra.

2. Periode praoperasional pada umur 2 – 7 tahun. Perkembangan bahasa anak ini sangat pesat. Analisis rasional belum berjalan.

3. Periode operasi konkret pada umur 7 – 11 tahun. Mereka sudah bisa berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret. Mereka sudah bisa mengerjakan penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

4. Periode operasi formal pada umur 11 – 15 tahun. Mereka sudah dapat berpikir logis terhadap masalah baik yang konkret maupun yang abstrak.

2.3 Solusi Mengatasi Perkelahian Pelajar

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi perkelahian pelajar, yaitu sebagai berikut :

1. Kegagalan menghadapi identisan peran dan lemahnya control diri bisa dicegah atau bisa diatasi dengan prinsif keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik, juga mereka berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

2. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi mereka.

3 Kehidupan beragama keluarga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosila keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melalukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma-norma agama.

4. untuk menghindari masalah yang timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua juga hendaknya memberikan kesibukan dan mempercayakan tanggungjawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggungjawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggungjawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak “Keluyuran” tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggungjawab dalam ramah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.

5. Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar anak memilih jurusan sesuai dengan bakat, kesenangan, dan hobi si anak. Tetapi apabila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihanya. Sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai.

6. Mengisi waktu luang diserahkan kepada kebijaksanaan remaja. Remaja selain membutuhkan materi, juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Oleh karena itu. Waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan dapat berupa melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, catur dan lain sebagainya. Selain itu, dapat pula berupa tukar pikiran berbicara dari hati ke hati, misalnya makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.

7. Remaja hendaknya pandai memilih lingkungan pergaulan yang baik serta orang tua memberi arahan arahan di komunitas nama remaja harus bergaul

8. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman- teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

9. Pada faktor internal, disinilah pentingnya lembaga pendidikan memiliki tenaga Bimbingan dan Konseling yang selalu siap untuk memberikan bimbingan pribadi dan bimbingan sosial kepada peserta didiknya, supaya tidak terjadi perkelahian pelajar atau perilaku-perilaku agresif lainnya yang disebabkan oleh ketidak matangan pribadi siswa.

10.Pada faktor Sekolah, disinilah pentingnya sekolah memiliki tenaga guru Bimbingan Konseling dan disinilah pentingnya guru BK yang ada disekolah melakukan identifikasi permasalahan siswa, melakukan identifikasi kondisi sosial siswa atau sosiometri untuk mendeteksi permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa dan untuk mengetahui kemungkinan adanya kelompok-kelompok gank di sekolah. Sebagai bentuk usaha pencegahan terhadap munculnya perilaku-perilaku asosial di sekolah

11.Secara umum, menurut Arief Herdiyanto, upaya mengantisipasi penyimpangan sosial, termasuk perkelahian pelajar, dapat dilakukan melalui tiga langkah sebagai berikut :

a. Penanaman nilai dan norma yang kuat pada setiap individu. Apabila hal ini berhasil dilakukan pada seseorang individu secara ideal, niscaya tindak penyimpangan tidak akan dilakukan oleh individu tersebut.

b. Pelaksanaan peraturan yang konsisten. Pada hakikatnya segala bentuk peraturan yang dikeluarkan adalah usaha mencegah adanya tindak penyimpangan. Namun, apabila peraturan – peraturan yang dikeluarkan tidak konsisten justru akan menimbulkan tindak penyimpangan.

c. Menciptakan kepribadian yang kuat dan teguh. Menurut Theodore M. Newcomb, kepribadian adalah kebiasaan, sikap-sikap dan lain-lain, sifat yang khas yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Seseorang disebut berkepribadian apabila seseorang tersebut siap memberi jawaban positif dan tanggapan positif atas suatu keadaan. Apabila seseorang berkepribadian teguh ia akan mempunyai sikap yang melatarbelakangi tindakannya. Dengan demikian ia akan mempunyai pola pikir, pola perilaku dan pola interaksi yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

BAB III


KESIMPULAN


Dalam proses pendidikan, peserta didik atau warga belajar harus memegang peran utama sebab mereka adalah individu yang hidup dan mampu berkembang sendiri selain itu,pelaku pendidikan harus memperlakukan dan melayani perkembangan mereka secara wajar.Namun, pada kenyataannya semua itu tidak berjalan dengan mulus, masih ada saja terjadi perilaku-perilaku yang menyimpang salah satunya adalah kenakalan remaja.
Kenakalan remaja meliputi semua prilaku menyimpang dari norma sosial, norma hukum, norma kelompok dan merugikan dirinya sendiri serta mengganggu ketrentaman masyarakat. Misalnya, penggunaan Narkotika, prilaku seksual di luar nikah, perkelahian pelajar, kebut-kebutan, minum-minuman keras, membolos sekolah, berbohong, membunuh, keluyuran, mencuri, dan aksi corat-coret di tembok atau pagar dan lain sebaginya.Hal-hal yang dapat mempengaruhi munculnya kenakalan remaja diantaranya adalah adanya waktu luang yang diisi dengan kegiatan yang kurang positif, pemilihan teman sebaya yang kurang baik, kurang nyaman dalam menjalani pendidikan, kurang berfungsinya hubungan sosial keluarga, dan lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Untuk itu waktu luang hendaknya digunakan untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga dan mengadakan kegiatan keluarga guna mengeratkan kasih sayang, remaja harus pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan denga siap dan di komunitas mana remaja harus bergaul. Orang tua hendaknya memberikan kebijaksanaan terhadap anak untuk memilih pendidikan sesuai dengan kesenangan dan bakatnya dan orang tua harus berusaha memenuhi kebutuhan anak secara maksimal baik itu materi, perhatian, kasih sayang, pendidikan agama, dan pendidikan moral.

Peran para pendidik juga tidak kalah penting. Pihak sekolah juga hendaknya memiliki tenaga guru Bimbingan dan Konseling yang selalu siap memberikan bimbingan pribadi dan bimbingan social kepada peserta didiknya. Karena untuk mengatasi perilaku menyimpang pelajar, dituntuk kerja sama dari orang tua dan pihak sekolah.




DAFTAR PUSTAKA

Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan: Stimulus Pendidikan Bercorak

Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

http://mobilterbaru.com/info/contoh-makalah-perkelahian-antara-pelajar diakses tanggal

6 Desember 2010 pukul 15:58

http://www.duniaedukasi.net/2010/03/perkelahian-pelajar.html diakses tanggal

1 Desember 2010 pukul 10:30

http://erich91.blogspot.com/2009/04/2009-smk-binawiyata-makalah-kenakalan.html diakses tanggal 5/ Desember 2010 pukul 16:10

http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/psikologi/psi4.htm diakses tanggal

7 Desember 2010 pukul 15:20

http://www.harianjogja.com/beritas/detailberita/HarjoBerita/18477/saling-ejek-puluhan-pelajar-sma-tawuran-di-seyegan-view.html,Diakses, Kamis tanggal 9 Desember 2010 pukul 20.15
Jumat, 30 Desember 2011 | 0 komentar |

0 komentar:

Poskan Komentar